Limbah inti sawit (palm kernel by-product / PKBP) sudah umum digunakan sebagai bahan pakan ternak secara luas mulai dari unggas, babi hingga ruminansia. Berdasarkan kandungan nutrisinya, limbah sawit inti sawit bisa digolongkan sebagai komoditas sumber alternatif penyedia enerji dan mempunyai kandungan serat tinggi yang sangat ekonomis dalam menyusun formulasi pakan. PKBP yang merupakan hasil samping produksi minyak kelapa sawit masih menyisakan berbagai kendala berupa kandungan anti nutrisi mannan. Secara fisik mengandung kontaminasi batok yang sangat sulit dicerna oleh unggas. Kendala tersebut di antaranya bisadiatasi denganmelakukan fermentasi palm kenel meal, meskipun cara fermentasi PKM ini masih jarang dilakukan.
Proses industri minyak kelapa sawit menghasilkan 2 by-product akhir yang umum digunakan sebagai bahan pakan ternak yaitu palm kernel meal (PKM) dan palm kernel cake (PKC), yang terkadang memberikan pengertian yang rancu. Pada artikel ini, PKM juga dianggap sebagai PKC kecuali diartikan secara khusus. Secara teknis keduanya merupakan hasil sampingan (limbah) dri proses pengolahan minyak sawit tahap kedua (untukmenghasilkan palm kenel oil / PKO), tetapi berbeda metoda proses produksinya.
PKC merupakan produk sisa setelah ekstraksi minyak dari palm kernel yang diproses dengan tekanan mekanis dan berbentuk padatan pipih. PKC juga biasa disebut PKE (palm kernel expeller) karena diproses menggunakan mesin expeller. PKM adalah produk sisa dari hasil ekstraksi palm kernel dengan menggunakan pelarut kimia (solvent). Perbedaan metoda produksi tersebut menghasilkan kandungan nutrisi yangh berbeda antara keduanya.
Kandungan minyak PKC lebih tinggi dibandingkan PKM dikarenakan efisiensi ekstraksi minyak secara mekanis lebih rendah dibandingkan cara solvent sehingga masih menyisakan kandungan lemak lebih tinggi. Kadar minyak PKC bisa 3 – 9% (bahkan bisa mencapai 12%) sementara PKM hanya mengandung 1 – 3% (<5%) lemak. Implikasinya nyata terhadap enerji metabolis yang dihasilkan, di mana AME PKM 1800 – 2000 kcal/kg sedangkan PKC bisa lebih tinggi (2200 – 2500 kcal/kg). Kandungan proein PKM berkisar 17 – 19% relatif sama atau sedikit lebih tinggi dibandingkan PKC.
Kadar serat kasar baik pada PKC ataupun PKM sangat variatif, berkisar 16-20 %. Besaran serat kasar sangat dipengaruhi oleh tingkat kontaminasi cangkang, yang mana antara keduanya mempunyai korelasi positif yang kuat (r = 0,9998). Cangkang menyumbang 60-70 % serat kasar. Cangkang juga mengandung abu cukup tinggi berkisar 2-5 %, sehingga peningkatan kontaminasi cangkang akan meningkatkan kadar abu. Korelasi antara kadar serat kasar dan abu pada umumnya kuat (r = 0,7 -0,9). Ini lebih disebabkan karena keduanya dipengaruhi oleh kontaminasi cangkang. Baik dalam proses yang menghasilkan PKM atau PKC, mempunyai keterbatasan dalam proses nut cracking dan shell separation sehingga besarnya % cangkang yang sulit dikendalikan menyebabkan variasi serat kasar dan abu pada PKM dan PKC.
Warna palm kernel by-product PKM dan PKC berkisar dari coklat muda hingga coklat gelap bahkan sampai berwarna coklat kehitaman. Pada umumnya warna PKC lebih gelap dan sebaran warnanya tidak merata dibandingkan PKM. Ini di antaranya disebabkan oleh proses expeller pressing pada PKC yang mengandalkan gesekan mekanis dan tekanan tinggi.
Panas yang berlebihan akan memicu reaksi Mailard yang menyebabkan warna menjadi gelap dan cenderung gosong pada beberapa bagian tertentu. Residu minyak di dalam bahan jika mengalami oksidasi selama proses pendinginan dan penyimpanan akan lebih meningkatkan intensitas warna gelap. Sebaliknya warna PKM lebih terang dan lebih seragam karena bentuk dan ukuran bahan lebih halus. Selama proses ekstraksi solvent suhu bisa lebih dikendalikan dan suhu maksimum yang lebih rendah menghasilkan warna yng lebih muda.
Contents
- 1 Kendala Penggunaan Palm Kernel Meal
- 2 Table 1. Proximate analysis of PKM, SBM, CSM and RSM (dry matter basis)
- 3 Table 2. Amino acid composition of PKM, SBM, CSM and RSM (dry matter basis)
- 4 Table 3. Amino acid availability in PKM, SBM, CSM and RSM fed to chicks
- 5 Perbaikan Kualitas Palm Kernel Meal
- 6 Proses Fermentasi Palm Kernel Meal
- 7 Teknik Fermentasi Palm Kernel Meal
- 8 Percobaan Fermentasi Palm Kernel Meal dalam Pakan Broiler
- 9 Table 4. Details of experimental treatments
- 10 Table 5. The effects of diet on body weight gain, feed intake and feed conversion ratio
- 11 Daftar Pustaka
Kendala Penggunaan Palm Kernel Meal
Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Adapun produksi PKM / PKC di dunia diperkirakan mencapai 8,7 – 9,1 juta ton, di mana sebanyak 70% suplai tersebut berasal dari Indonesia. Produksi PKM / PKC Indonesia pada tahun 2024 / 2025 adalah sebesar 6,845 juta ton (USDA, oilseeds and Products Annual – Jakarta, 2025). Sampai tahun 2029 diproyeksikan produksi bungkil inti sawit ini akan tumbuh 5 – 7% per tahun. Permintaan untuk alternatif bahan baku pakan ternak dan akuakultur akan produk samping ini akan terus meningkat sejalan dengan semakin mahalnya sumber – sumber protein / enerji konvensional.
Tingkat penggunaan PKM sebagai bahan pakan ternak semakin meningkat belakangan ini, terutama permintaan yang cukuptinggi oleh feed mill untuk pakan unggas. PKM sudah umum digunakan untuk pakan ruminansia karena rumen merupakan fermentor biologi yang mampu mencerna kandungan serat kasarnya yang tinggi. Menjadikannya sumber nutrisi fungsional bagi ruminansia. Kandungan β-mannan dan galaktomannan tidak bersifat anti nutrisi bagi ruminansia. PKM juga sudah mulai umum diperhitungkan dalam formulasi pakan akuakultur sebagai sumber enerji dn filler, meskipun level pemakaiannya masih terbatas. Sebagian besar produksi PKM bisa diserap untuk kebutuhan domestik dan sisanya diekspor ke negara lain untuk bahan pakan ternak.
Meskipun demikian persentase penggunaan PKM dalam formulasi pakan unggas masih terbatas dan belum bisa dimaksimalkan. Masih rendahnya tingkat serapan PKM untuk idustri pakan ternak disebabkan oleh 5 masalah utama, yaitu (1) kandungan serat kasar tinggi dan NSP tidak larut terutama β-mannan, selulosa dan lignin yang menurunkan kecernaan nutrisi dan enerji metabolis, (2) kadar protein rendah dengan kandungan asam amino yang tidak seimbang, rendahnya nilai asam amino khususnya lisin, methionin, triptofan dan sistin, (3) kontaminasi batok atau cangkang menyebabkan inkonsistensi kualitas, (4) kurang palatabel terutama kontaminasi cangkang yang tinggi menyebabkan turunnya konsumsi pakan, (5) terutama PKC yang masih cukup banyak mengandung residu lemak (8 – 10%) mudah mengalami ketengikan yang disebabkan oleh oksidasi akibat penyimpanan yang terlalu lama.
PKM tidak bisa diklasifikasikan sebagai sumber protein. Kandungan enerjinya juga termasuk rendah yang disebabkan oleh tingginya kandungan serat kasar. Sebanyak 56.4% dari serat kasar PKM terdapat dalam bentuk ϐ-manan, yang mana terutama unggas kesulitan untuk mencernanya akibat ketiadaaan enzyme mannanase. Serat kasar PKM terdiri dari 60% polisakarida non pati (NSP) yang bisa dipecah lagi menjadi manan 78%, arabinoxylan 3%, selulosa 12% dan glucuronoxylan 3%. Kandungan serat kasar yang tinggi akan menurunkan ketersediaan enerji dan juga serat kasar akan menutupi molekul protein yang menyulitkan enzim protease untuk menguraikannya.
Table 1. Proximate analysis of PKM, SBM, CSM and RSM (dry matter basis)
| Ingredient | Dry matter (%) | Protein (%) | Fibre (%) | Ash (%) | Ether extract (%) |
|---|---|---|---|---|---|
| PKM (Palm kernel meal) | 92.0 | 21.3 | 17.5 | 5.0 | 7.8 |
| SBM (Soybean meal) | 91.1 | 48.0 | 6.5 | 6.0 | 0.6 |
| CSM (Cottonseed meal) | 92.4 | 41.0 | 13.6 | 7.0 | 2.0 |
| RSM (Rapeseed meal) | 90.5 | 38.0 | 12.0 | 7.2 | 1.5 |
| Source : E.N. Nwokolo, D.B. Bragg and W .D. Kitts, 1976 | |||||
Table 2. Amino acid composition of PKM, SBM, CSM and RSM (dry matter basis)
| Amino acid | PKM | SBM | CSM | RSM |
|---|---|---|---|---|
| Lysine | 0.69 | 2.95 | 2.19 | 2.08 |
| Histidine | 0.41 | 1.23 | 1.37 | 0.98 |
| Arginine | 2.68 | 3.45 | 5.60 | 1.93 |
| Aspartic acid | 1.69 | 5.64 | 4.74 | 2.38 |
| Threonine | 0.66 | 1.88 | 1.51 | 1.48 |
| Serine | 0.90 | 2.48 | 2.15 | 1.48 |
| Glutamic acid | 3.62 | 9.01 | 10.32 | 6.22 |
| Proline | 0.50 | 1.21 | 1.58 | 2.16 |
| Glycine | 0.91 | 2.16 | 2.31 | 1.79 |
| Alanine | 0.81 | 2.16 | 2.04 | 1.58 |
| Valine | 0.43 | 1.02 | 1.68 | 0.75 |
| Methionine | 0.47 | 0.75 | 0.70 | 0.84 |
| Isoleucine | 0.60 | 1.92 | 1.22 | 1.30 |
| Leucine | 1.23 | 3.71 | 2.85 | 2.57 |
| Tyrosine | 0.58 | 1.84 | 1.45 | 1.09 |
| Phenylalanine | 0.82 | 2.44 | 2.48 | 1.49 |
| Source : E.N. Nwokolo, E.N, D.B. Bragg and W.D. Kitts, 1976 | ||||
Table 3. Amino acid availability in PKM, SBM, CSM and RSM fed to chicks
| Amino acid | PKM | SBM | CSM | RSM |
|---|---|---|---|---|
| Lysine | 90.0 | 99.0 | 89.0 | 94.4 |
| Histidine | 90.1 | 98.8 | 93.8 | 94.2 |
| Arginine | 93.2 | 98.8 | 95.7 | 95.8 |
| Aspartic acid | 87.6 | 98.3 | 93.6 | 91.7 |
| Threonine | 86.5 | 97.9 | 89.8 | 90.8 |
| Serine | 88.7 | 98.1 | 93.0 | 91.4 |
| Glutamic acid | 90.1 | 98.9 | 96.3 | 94.9 |
| Proline | 68.0 | 93.0 | 90.9 | 91.2 |
| Glycine | 63.3 | 92.9 | 91.7 | 89.4 |
| Alanine | 85.5 | 97.4 | 89.2 | 94.2 |
| Valine | 68.4 | 92.9 | 91.1 | 90.9 |
| Methionine | 91.4 | 98.7 | 93.3 | 78.4 |
| Isoleucine | 86.1 | 97.7 | 91.3 | 91.6 |
| Leucine | 88.5 | 98.4 | 92.4 | 94.0 |
| Tyrosine | 85.0 | 98.0 | 94.2 | 92.8 |
| Phenylalanine | 90.5 | 98.6 | 95.2 | 94.8 |
| Source : E.N. Nwokolo, D.B. Bragg and WW.D. Kitts, 1976 | ||||
Kendala secara fisik dikarenakan bervariasinya kandungan batok / cangkang yang ditemukan di dalam palm kenel by-product. Cangkang adalah bagian keras lapisan luar inti sawit (endocarp) yang berwarna coklat tua sampai hitam mengkilap, mempunyai densitas tinggi dan tidak bisa dicerna pencernaan unggas. Tingkat kontaminasi batok di dalam PKM sangat bervariasi mulai dari <0,2% – >5%. Ini terutama disebabkan oleh ketidakefisienan proses de-shelling di dua tahap rantai produksi.
Pertama, di pabrik kelapa sawit di mana setelah biji terpisah dari daging buah melalui pressing, biji utuh (cangkang + inti) dihancurkan dan hydrocyclone akn memisahkan cangkang (lebih ringan, terapung) dari inti (lebih berat, tenggelam). Ketidak efisienan proses akan memungkinkan shell lolos terbawa bersama inti. Kedua, di pabrik ekstraksi minyak inti sawit, di mana inti yang telah terkontaminasi cangkang akan dihancurkan, dimasak dan diekstraksi secara mekanis (expeller) atau dengan pelarut (solvent).
Tanpa tahap pre cleaning atau post screening yang memadai, maka fragmen cangkang akan tetap tercampur dalam produk akhir sebagai PKM atau PKC. Besaran kontaminasi batok ini juga yang menjadi salah satu faktor penentu kualitas PKM sewktu proses penerimaan di feed mill dan bisa membatasi maksimal penggunaannya di dalam pakan. Batok sama sekali tidak mempunyai nilai nutrisi sehingga kehadiran nya berkorelasi negatif dengan kandungan nutrisi yang diperlukan.
Perbaikan Kualitas Palm Kernel Meal
Upaya untuk meningkatkan kualitas palm kernel dapat dilakukan dengn berbagai pendekatan yaitu di antaranya secara fisik (mekanik) berupa sieving / filtering, grinding dan ekstrusi, enzimatik dan secara non fisik berupa fermentasi. Cangkang sawit diketahui sangat sulit untuk didegradasikan secara biologi maupun kimiawi, sehingga perlakuan mekanik merupakan salah satu pilihan. Perbaikan dengan tindakan mekanis adalah upaya untuk meminimlkan kontaminasi cangkang sehingga akan meningkatkan nilai nutrisinya per satuan berat dan menyesuaikan ukuran partikel agar lebih seragam, lebih sesuai untuk proses produksi pakan dan lebih mudah dicerna.
Separasi cangkang dengan mesin separator akan memisahkan cngkang dari fraksi PKM yang lebih benilai. Dengan menggunakan metoda fraksinasi (filtering) memperlihatkan bahwa bagian non cangkang (PKM) akan terkonsentrasi pada saringan ukuran mesh 30 (0,595 mm) – 400 (0,053 mm), sedangkan bagian cangkang akan terkonsentrasi pada saringan berukuran mesh 8 (2,38 mm) – 16 (1,19 mm) (Yatno, 2011 dalam Ainun Nafisah et al., 2022).
Proses grinding bertujuan untuk mengurangi ukuran partikel termasuk di antaranya cangkang dari PKM. Dengan berkurangnya ukuran partikel akan meningkatkan luas permukaan sehingga memungkinkan akses yang jauh lebih luas bagi enzim pencernaan untuk meningkatkan kecernaan nya. Sebaiknya menggunakan saringan berukuran 1 – 2 mm untuk grinding yang optimal. Mempertimbangkan bahwa cangkang pada dasarnya sulit dicerna, maka proses grinding tidak akan banyak berpengaruh terhadap kualitas cangkang. Perbaikan yang ada adalah kualitas pakan hasil grinding yang akan memperoleh efek positif. proses sieving / filtering lebih signifikan pengaruhnya karena akan mengurangi persentase kandungan cangkang dalam PKM.
Ekstrusi PKM menggunakan mesin ekstruder, misalnya denga twin screw extruder akan membantu untuk mengurangi kandungan polisakarida yang tidak tercerna. Dalam suatu penelitian untuk mengukur pengaruh ekstrusi dan sieving terhadap kualitas nutrisi PKC, disimpulkan bahwa perlakuan mekanis dengan ekstrusi ataupun sieving tidak nyata berpengaruh terhadap kandungan protein dan abu. Meskipun demikian kedua perlakuan fisik tadi nyata menurunkan kandungan serat kasar masing – masing sebesar 21% dan 19%. Selanjutnya proses ekstrusi meningkatkan penyediaan enerji AME sebanyak 6% dan meningkatkan kecernaan protein sebesar 32%. Ekstrusi dengan suhu tinggi dalam waktu singkat akan mendegradasi mikro organisma dan senyawa anti nutrisi yang tidak tahan panas. Tekanan dan gesekan selama proses ekstrusi akan memecah struktur protein yang akan memperbaiki kecernaannya.
Penggunaan enzyme untuk memperbaiki kualitas nutrisi PKM belum banyak membuahkan hasil. Partikel fisik cangkang tidak bisa dihancurkan dengan perlakuan enzymatik, tetapi bersifat tidak langsung dengan meminimalisir dampak negatif nutrisi PKM karena kontaminasi cangkang banyak berkorelasi dengan kualitas PKM yang buruk. Pada banyak penelitian, suplementasi enzim komersial ke dalam PKM tidak secara signifikan memperbaiki laju pertumbuhan ayam dibandingkan ayam yang tidak mendapatkan suplementasi enzim. Kemungkinan karena enzim komersial tersebut tidak cocok dengan profil nutrisi PKM khususnya fraksi serat kasar, karena kebanyakan enzim tersebut pada awalnya memang tidak didisain secara khusus untuk PKM (Sundu et al., 2004).
Setidaknya ada 3 jenis enzyme yang diperlukan jika ingin memperbaiki kualitas PKM yaitu mannanase, galactosidase dan selulase, masing – masing untuk memecah dan mencerna ikatan rantai mannan, selulosa dan galaktosida. Beberapa peelitian lanjutan dengan penggunaan enzyime mannanase secara sendiri atau kombinasi antara mannanase, selulase dan galactosidase memberikan hasil yang lebih menjanjikan. Saenphoom et al. (2013) menambahkan enzym selulase dan mannanase ke dalam pakan broiler grower (5% PKE) dan finisher (20% dan 30%PKE), memperlihatkan bahwa TME (true ME) meningkat sebesar 38% dibandingkan PKE tanpa perlakusn enzim dan dikonfirmasi bahwa PKM bisa digunakan secara aman sampai 20% tanpa efek yang merugikan.
Proses Fermentasi Palm Kernel Meal
Cara fermentasi sudah umum dilakukan terhadap beberapa bahan baku yang biasa diberikan pada ternak ruminansia. Misalnya dalam pembuatan silase di antaranya untuk diolah menjadi silase rumput, silase jerami, silase jagung, silase legum sampai pada tepung ikan fermentasi. Tujuan fermentasi adalah untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan ketersediaan nutrisi dari bahan pakan yang bekualitas rendah, terutama berasal dari limbah industri pertanian atau pengolahan bahan makanan. Fermentasi akan meningkatkan protein mikroba dan asam amino esensial khususnya lisin dan methionin, menurunkan kandungan anti nutrisi seperti β-mannan dan tanin. Ini diharapkan akan dapat meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal sebagai alternatif dalam penyusunan pakan unggas.
Bahan baku alternatif yang potensial untuk tujuan tersebut antara lain palm kenel by-product, bungkil kelapa, kopra, limbah singkong, dedak, kulit buah kakao, limbah udang, limbah bulu ayam, ampas sagu, ampas kecap dan lain – lain. Khusus terhadap PKM / PKC, fermentasi akan melunakkan partikel cangkang meski tidak menghilangkannya, dengan cara mendegradasi sebagian lignoselulosa cangkang sehingga menjadi lebih ramah terhadap mesin produksi maupun sistem pencernaan ayam.
Proses fermentasi PKM membutuhkan bantuan mikro organisma seperti ragi, bakteri dan atau jamur untuk memecah senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Dalam hal ini karbohidrat, protein, lemak dan bahan organik lain dari bahan akan diuraikan dalam kondisi aerob ataupun anaerob melalui kerja enzimatik yang dihasilkan oleh mikroba tersebut. Maka teknologi fermentasi sangat tepat untuk diterapkan pada bahan baku alternatif lokal yang mempunyai kendala dalam hal tingginya kandungan serat kasar, rendah protein, ketidak seimbangan asam amino dan adanya kandungan zat anti nutrisi.
Dalam satu penelitian oleh Bahri et al. (2019) dalam B, Sundu et al. (2021) pada fermentasi terhadap limbah kelapa menggunakan Aspergillus niger mengindikasikan bahwa mikroba tersebut dapat menghasilkan enzim mannanase. Juga diketahui bahwa sejumlah mikro organisma mampu mensintesa vitamin dan asam amino tertentu selama proses fermentasinya. Efek kerja spesies bakteri terhadap aktivitas enzim mannanase bisa berbeda. Sclerotium rolfsii menghasilkan aktivitas mannanase tertinggi 67,521 U/ml dan Eupenicillium javanicum 24,58 U/ml. Aspergillus niger adalah yang terendah dibandingkan keduanya. Aktivitas enzim selulase yang dihasilkan S. rolfsii juga tinggi (21,89 U/ml) (Mirnawati et al., 2018).
Teknik Fermentasi Palm Kernel Meal
Selain pemilihan jenis mikroba yang sesuai dengan substrat, faktor lain yang perlu diperhatikan untuk keberhasilan proses fermentasi adalah substrat yang digunakan (ukuran partikel, kadar air dan water activity substrat, perlakuan pendahuluan terhadap substrat) serta kondisi lingkungan yang tepat dan seragam. Beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap PKM antara lain suhu, pH, kelembaban, komposisi kimia dari media, lamanya waktu proses fermentasi dan lain – lain. Faktor – faktor tersebut akan mempengaruhi kualitas pertumbuahan dan aktivitas mikro organisma yang digunakan dalam proses fermentasi.
Teknik fermentasi palm kernel meal yang sudah dilakukan adalah menggunakan metoda solid state fermentation (SSF) atau fermentasi media padat. Metoda ini berguna untuk menurunkan kandungan lignoselulosa yang tinggi, meningkatkan kandungan protein bahan, meningkatkan kadar vitamin bahan, memproduksi protein sel tunggal (PST) dan menghasilakan enzim. Mengingat banyaknya jenis mikroba yang digunakan dalam proses fermentasi maka metoda fermentasi media padat bisa dikategorikan menjadi 2 kelompok, yaitu (1) fermentasi media padat alami, yang menggunakan microflora alami, misalnya dalam pembuatan kompos dan silase, (2) fermentasi media padat kultur murni, yang menggunakan microflora kultur murni tunggal atau campuran, misalnya untuk skala industri atau penelitian.
Dalam penelitan menggunakan metoda SSF oleh B, Sundu et al. (2021), untuk memberikan gambaran mengenai pelaksanaaan metodanya, menggunakan PKM sebagai substrat padat. PKM disaring (diayak) untuk memisahkan sebanyak mungkin cangkang dari bahan substrat. PKM dengan minimal kandungan cangkang kemudian digiling halus untuk memperoleh mayoritas ukuran partikel 1 2 mm, dengan pertimbangan bahwa semakin kecil ukuran partikel akan semakin luas ukuran permukaan yang akan difementasi oleh mikroba dan mempercepat / menyempurakan proses fermentasi.
Substrat PKM selanjutnya di-autoklaf selma 20 menit pada tekanan 20 psi dan kemudian didinginkan. Tujuan di-autofklaf adalah untuk memanaskan dan mensterilisasi menggunakan uap panas bersuhu dan tekanan tinggi. Sebayak 20 kg substrat tersebut diinkubasi dengan mikroba jamur yang sudah ditentukan, diaduk sampai merata dan ditambahkan air untuk meningkatkan kelembabannnya sampai tingkat kelembaban yang sesuai. Dibiarkan selama 6 hari. Setelah proses fermentasi selesai maka substrat akan dikeringkan pada suhu 50 oC selama 48 jam.
Metoda di atas merupakan teknik fermentasi untuk skala penelitian, sehingga dalam skala industri yang membutukan kuantitas substrat yang besar akan mempunyai prosedur kerja yang berbeda. Dalam skala industri, proses SSF terdiri atas beberapa tahapan kerja yang secara sederhana bisa dikelompokkan ke dalam 3 proses yaitu proses hulu, tengah dan hilir (Mitchell et al., 2000; Ashok et al., 2017 dalam Levi Yafetto, 2022). Proses hulu meliputi penyiapan substrat dan media pertumbuhan mikro organisma , serta isolasi mikro organisma yang akan digunakan untuk proses fermentasi. Proses tengah di mana merupakan proses inokulasi dan fermentasi dilangsungkan. Proses hilir adalah memanen produk akhir dan dikemas.
Percobaan Fermentasi Palm Kernel Meal dalam Pakan Broiler
Percobaan pengaruh penggunaan fermetasi palm kernel meal dengan beberapa jenis mikro organisma dan tingkat penggunaan yang berbeda untuk pakan broiler, menguatkan bahwa fermentasi PKM bisa lebih baik dibandingkan dengan PKM tanpa perlakuan fermentasi. Jenis mikro organisma yang dicobakan adalah Pleorotus ostreatus, Trichoderma viride dan Aspergillus niger. Masing – masing dengan tingkatan berbeda yaitu 10% dan 20%, dibandingkan dengan pakan kontrol tanpa PKM dan pakan dengan 10% PKM tanpa perlakuan fermentasi. Ayam broiler Cobb diberi pakan percobaan sebagai pakan starter umur 1 – 21 hari dan pakan grower umur 22 – 42 hari. Performa yang diukur pada umur 42 hari adalah laju pertambahan berat badan, konsumsi pakan dan FCR.
Table 4. Details of experimental treatments
| Diets | Details | Diets | Details |
|---|---|---|---|
| T-1 | Control | T-6 | 20% Palm Kernel Meal without fermentation |
| T-2 | 10% Palm Kernel Meal without fermentation (PKM10) | T-7 | 20% Aspergilus niger - fermented PKM (PKM20) |
| T-3 | 10% Aspergilus niger - fermented PKM (PKM10) | T-8 | 20% Pleorotus ostreatus - fermented PKM (PKM20) |
| T-4 | 10% Pleorotus ostreatus - fermented PKM (PKM10) | T-9 | 20% Trichoderma viridae - fermented PKM (PKM20) |
| T-5 | 10% Trichoderma viride - fermented PKM (PKM10) | ||
| Source: Sundu, B, A. Adjis, S. Sarjuni, S. Mozin and U. Hatta. 2021 | |||
Table 5. The effects of diet on body weight gain, feed intake and feed conversion ratio
| Diets | Parameters | ||
| Body weight gain | Feed intake | Feed conversion ratio | |
| R-1 | 2099a | 3560a | 1.70 |
| R-2 | 2021ab | 3596a | 1.79 |
| R-3 | 2085a | 3583a | 1.73 |
| R-4 | 2016ab | 3558a | 1.77 |
| R-5 | 2011ab | 3581a | 1.78 |
| R-6 | 1787b | 3365b | 1.89 |
| R-7 | 2092a | 3574a | 1.71 |
| R-8 | 2059ab | 3585a | 1.75 |
| R-9 | 2021ab | 3594a | 1.78 |
| Source: Sundu, B, A. Adjis, S. Sarjuni, S. Mozin and U. Hatta. 2021 | |||
Pemberian pakan perlakuan fermentasi palm kernel meal memberikan perbedaan yang signifikan untuk parameter pertambahan berat badan (PBB), konsumsi pakan dan FCR. Ayam yang diberikan pakan 20% PKM tanpa difermentasi mempunyai PBB yang paling rendah, bahkan dibandingkan dengan pakan kontrol yang tanpa PKM. Pakan tanpa PKM menunjukkan performa yang paling ideal dari parameter PBB dan FCR. Disusul pakan dengan PKM yang difermentasi menggunakan bakteri Aspergillus niger mempunyaiperforma yang baik dan secara statistik tidak berbeda nyata. Bisa disimpulkan bahwa fermentasi palm kernel meal membantu memperbaiki kualitas dan kecernaan nutrisi PKM dan bakteri Aspergillus niger merupakan fermentor yang paling ideal untuk substrat PKM.
Aplikasi level penggunaan PKM / PKC fermentasi dalam pakam broiler bisa digolongkan ke dalam 3 kategori yaitu level aman (10 – 15%), level moderat (20 – 25%) dan level tinggi (30%). Pada level aman dengan formulasi standar cukup aman untuk bisa mendapatkan performa produksi berat badan, nilai FCR dan kualitas karkas yang sama. Level moderat memerlukan penyesuaian enerji dan asam amino dalam formulasi, dan proses fermentasi harus dipastikan tidak bermasalah (kandungan protein naik, serat kasar turun dan aktivitas mannanase yang cukup), untuk memastikan kualitas bahan hasil fermentasi. Level tinggi hanya bisa dilakukan dengan menambahkan PKM fermentasi berkualitas sangat baik, perlu penyesuaian penuh pada formulasi untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan performa produksi pada ayam broiler.
Level aman penggunaan PKM fermentasi pada ayam petelur ada di level 10- 15%, bahkan beberapa penelitian menunjukkan masih aman digunakan sampai 20% dalam pakan tergantung teknologi fermentasi yang digunakan dan kualitas bahan hasil fermentasi. Pada penggunaan tinggi, harus dijaga kadar serat kasar di kisaran 4 – 5% dan mempertahankan keseimbangan enerji – asam amino dalam pakan. Beberapa patrameter kualitas telur yang harus diperhatikan pada penggunaan PKM fermentasi antara lain kualitas albumen dan yolk selama penyimpanan jangka waktu tertentu, Haugh unit, berat telur dan lain – lain. Pada umumnya konsentrasi asam laurat dan beta karoten dalam telur meningkat yang akan memperbaiki profil asam lemak telur.
Daftar Pustaka
- Ainun Nafisah, Nahrowi, Ari Asfiandi, Muhammad Ridla dan Rita Mutia. 2022. Nutrient content and physical characteristics linkage of palm kernel meal and coconut meal after wet separation using molecular weight approach. Jambura Journal of Animal Science. Volume 5 No 1, November.
- Hanim Shaakirrin Faridah, Yong Men Goh, M.M. Noordin, and Juan Boo Liang. 2020. Extrusion enhances apparent metabolizable energy, ileal protein and amino acid digestibility of palm kernel cake in broilers. Asian-Australas J Anim Sci. 33(12): 1965 – 1974.
- Levi Yafetto. 2022. Application of solid-state fermentation by microbial biotechnology for bioprocessing of agro-industrial wastes from 1970 to 2020: A review and bibliometric analysis.
- Mirnawati dan Gita Ciptaan. 2022. Bungkil inti sawit fermentasi sebagai pakan alternatif unggas. Andalas University Press. Cetakan Pertama. Padang
- Mirnawati,Djulardi A and Ciptaan Gita. 2018. Utilization of fermented palm kernel cake with Sclerotum rolfsii in broiler ration. International Journal of Poultry Science 17 (7) : 342 – 347.
- Mirwandono, E dan Z. Siregar. 2004. Pemanfaatan hidrolisat tepung kepala udang dan limbah kelapa sawit yang difermentasi dengan Aspegilus niger, Rhyzopus oligoporus dan Tricoderma viridae dalam ransum ayam pedaging. Digital Library. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
- Nwokolo, E.N, D.B. Bragg and W.D. Krrrs. 1976. The availability of amino acids from palm kernel, soybean, cottonseed and rapeseed meal for the growing chick. Poultry Science 55: 2300 – 2304.
- Nwokolo, E.N, D.B. Bragg and W.D. Krrrs. 1976. A Method for estimating the mineral availability in Feedstuffs. Poultry Science 55: 2217-2221.
- Prasetya, R.D.D, M. Ramadani, Nahrowi and A. Jayanegara. 2021. International Seminar on Agriculture, Biodiversity, Food Security and Health. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 883 (2021) 012064.
- Saenphoom, P., J.B. Liang, Y.W. Ho, T.C. Loh and M. Rosfarizan. 2013.Effects of enzyme treated palm kernel expeller on metabolizable energy, growth performance, villus height and digesta viscosity in broiler chickens. Asian – Aust. J. Anim. Sci. Vol. 26, No. 4: 537-544.
- Sundu B and J.G. Dingle. 2011. Use of enzymes to improve the nutritional value of palm kernel meal and copra meal. Proc. Quensaland Poult. Sci. Symp. Australia, Vol: 11, (14) 1 – 15.
- Sundu B, Kumar A and Dingle J. 2004. Proc. Seminar Nasional pemanfaatan sumber daya hayati berkelanjutan. Palu Tadulako University Press. Pp: 19 -25.
- Suriya Kumari Ramiah et. al. 2019. Effect of feeding less shell, extruded and enzymatically treated palm kernel cake on expression of growth-related genes in broiler chickens. Italian Journal of Animal Science, Vol. 18, No. 1, 997-1004.
- Wahyu Pamungkas. 2011. Teknologi fermentasi, alternatif Solusi dalam Upaya pemanfaatan bahan pakan lokal. Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Subang. Media Akuakultur Volume 6 Nomor 1.
- Yatno. 2011. Fraksinasi dan sifat fisiko – kimia bungkil inti sawit. Agrinak 1(1):11-16.

